Jumat, 11 Januari 2013

Menyusuri Hiruk Pikuk Pasar 16 Ilir Palembang

Palembang, Kota Dagang

Pasar 16 mempunyai nilai sejarah bagi masyarakat kota Palembang, diperkirakan mulai berkembang pada pertengahan abad ke-19. Geliat perekonomian 16 Ilir dan sekitarnya sesungguhnya sudah dimulai sejak Kimas Hindi Pangeran Ario Kesumo Abdulrohim memindahkan pusat kekuasaan dari 1 Ilir yang dibakar habis oleh VOC tahun 1659 ke Kuto Cerancang (kini kawasan Beringin Janggut, Masjid Lama dan sekitarnya) pada tahun 1662. 

Suasana Pasar 16 Ilir pada tahun 1970an
  
Sejarah Pasar 16 Ilir
Denyut perekonomian itu makin terasa saat cucu Kimas Hindi Sultan pertama Palembang yang bergelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam yaitu Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo memindahkan keraton ke Kuto Kecik, seiring pembangunan Masjid Agung pada tahun 1738. Setelah menaklukkan Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1821, Belanda kemudian mengangkat potensi perekonomian di kawasan itu. Sebagai daerah perdagangan, dibangunlah pertokoan dan perkantoran di sepanjang tepian Sungai Tengkuruk, sungai yang bermuara ke sungai musi. Seperti lazimnya perkembangan pasar saat ini, perdagangan di Pasar 16 Ilir berawal dari "pasar tumbuh", yang terletak di tepian Sungai Musi (sekarang Gedung Pasar 16 Ilir Baru hingga Sungai Rendang, Jl Kebumen).
Pola perdagangan di lokasi itu hingga awal 1900-an, dimulai dari berkumpulnya pedagang “cungkukan”(hamparan), yang kemudian berkembang dengan pembangunan petak permanen. Untuk kawasan Pasar Baru (hingga kini masih bernama Jl Pasar Baru) saat itu sudah berderet bangunan bertingkat dua yang di bagian bawahnya menjadi tempat berjualan. Lapak-lapak pedagang mulai dibangun sekitar tahun 1918 dan dipermanenkan sekitar tahun 1939. Hal ini seiring dengan perkembangan ekonomi masyarakat Palembang yang maju pesat. Tidak heran jika Palembang sering disebut sebagai Kota Dagang, karena hampir di setiap sudut kota terdapat pedagang, mulai dari emperan makanan hingga restoran. Sekedar informasi, kadar emas di Palembang jauh lebih baik jika dibanding emas keluaran pulau jawa atau pulau sumatera lain. Jadi bagi anda yang ingin investasi emas, rugi banget kalau tidak beli emas Palembang.


Geliat Perdagangan
Aktivitas perdagangan umumnya berasal dari daerah hulu Sungai Musi, daerah Jakabaring dan sekitarnya, yang membawa hasil bumi, terutama buah, sayuran, dan kebutuhan lainnya dengan menggunakan perahu kayu atau sering disebut dengan perahu jukung, dengan semacam rumah-rumahan di bagian belakang sebagai tempat beristirahat. Pasar 16 Ilir adalah pasar yang cukup modern yang berada di tepi sungai Musi dan berada di samping Jembatan Ampera di Palembang. Jika dari arah hulu, menuju ke Pasar 16 ilir kita pasti melalui Bundaran Air Mancur depan Masjid Agung Palembang, kawasan perekonomian tersibuk di Palembang.

Foto Koleksi Liputan 2011, Bundaran Air Mancur Palembang

Pasar ini tergolong bersih karena merupakan pasar yang menjual tekstil, batik, pakaian, songket, dll. Pasar 16 ilir terkenal dengan banyaknya toko-toko emas, pusat penjualan baju-baju bekas yang di import dari luar negeri dan yang terpenting adalah sebagai pusat grosir di Kota Palembang, tidak heran jika harganya jauh lebih murah di banding pasar-pasar yang lain. Gedung pasar ini terdiri dari 4 tingkat bangunan. Ruko-ruko yang berjejer di pasar ini juga bersih. Setelah mengalami renovasi, ruko disekitar pasar ini kembali terlihat seperti bangunan perdagangan kolonial yang rapi, bersih, cantik, dan megah. Moda transportasi menuju Pasar 16 ilir anda bisa menggunakan angkot, bus transmusi, bus air, hingga perahu ketek, perahu kayu yang ditarik dengan mesin.

http://life.viva.co.id/news/read/78167-palembang_jadi_percontohan_udara_bersih


Pasar 16 Ilir sekarang
Mulai Tawar-Menawar Harga
Menyusuri setiap lorong-lorong Pasar 16 Ilir mulai dari lantai dasar, anda akan menjumpai puluhan pedagang tekstil, pakaian import, songket, tas wanita import dan segala pernak-pernik wanita semua tersedia. Harga yang ditawarkan beragam, seperti pakaian grosir misalnya, dibandrol dari 80 ribu rupiah atau lebih, tergantung pintar-pintar anda menawar dengan pedagang. Berjalan berhimpitan dengan para pengunjung lain sudah tentu menjadi pemandangan yang tidak aneh di sini. Berbagai kalangan mulai dari masyarakat bawah hingga masyarakat menengah begelayutan mencari keperluan mereka untuk mendapatkan harga yang murah dikantong dan berkualitas.


Geliat Pasar 16 Ilir dari atas Jembatan Ampera sekarang
Foto Koleksi Liputan 2011, Ampera dari Menara Masjid Agung
Lantai Kedua
Belum puas menyusuri lantai dasar, mari kita ke lantai dua Pasar 16 Ilir. Lapak-lapak pedagang yang terdiri dari ruko-ruko berjejer rapih dan tertata sesuai jenis barang dagangan. Di lantai ini anda akan mudah menjumpai pedagang busana muslim, aneka perlengkapan sholat yang semuanya berkualitas dengan harga yang sesuai tentunya. Seperti satu mukenah bordir semi sutra dibandrol sekitar 150 ribu rupiah atau lebih. Jika tidak sesuai kantong, ada banyak pilihan lain yang bisa anda beli. Mau beli boneka murah, perlengkapan pernikahan, sepatu, dan lainnya bisa anda cari di pasar 16 ilir. Yang pasti, sesuaikan dengan keuangan kantong dan keperluan anda. Beranjak ke lantai berikutnya lantai ketiga dan keempat anda masih menjumpai para pedagang tekstil dan pakaian, pokoknya tergantung selera dan tinggal pilih deh. Kalau belum puas pilih-pilih baju di lantai dasar, lantai kedua, anda bisa melenggang sampai ke lantai empat. Nah, dari lantai empat ini anda akan melihat pemandangan sungai musi di tengah hiruk pikuk geliat perekonomian masyarakat Palembang. Belum puas juga, datang saja ke Sumatera Selatan, Palembang...@__@




Sumber:

http://palembangdalamsketsa.blogspot.com/2012/07/sejarah-pasar-16-ilir-palembang.html

http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1128433&page=16;
Geliat Pasar 16 Ilir dari atas Jembatan Ampera sekarang

5 komentar: